Tentang perjalanan spiritual

(18:103) Say, (O Muhammad): “Shall We tell you who will be the greatest losers in respect of their works? (18:104) It will be those whose effort went astray in the life of the world and who believe nevertheless that they are doing good.

Berhubung udah lama gak posting dalam bahasa ibu sendiri, jadi kali ini saya mau coba ya bercerita pakai Bahasa Indonesia. Selain itu juga karena mungkin kontennya akan lebih relevan buat Indonesian readers sih, hehe. (Sebetulnya bakalan banyak bilingual mode-nya deng karena kagok cuy kalo every single word diterjemahin verbatim. Monmaap in advance yak.)

Tulisan ini diketik pukul 6:39 AM. Ceritanya saya baru aja balik dari itikaf pertama selama di Kanada sini. Ini Ramadan kedua saya disini sih, cuman tahun lalu ada aja deh tantangannya buat meniatkan diri untuk itikaf. Jangankan itikaf, sejujurnya Ramadan taun lalu aja gak begitu berasa ibadahnya buat saya. Jujur, cuman ibadah default kayak hari biasa (shalat 5 waktu, itu juga kadang–atau sering?–pake mepet-mepet batas jam, ngaji juga boro-boro ngejar khatam) ditambah puasa dan bayar zakat fitrah. Udah. Tapi tahun ini, terutama setelah melewati bulan-bulan setelah Ramadan 2017 tersebut berlalu, alhamdulillah saya merasa ada peningkatan sih. Tapi, merasa sedih banget sebetulnya.

I’ve just come to realize what I’ve been missing out and taking for granted. Sebetulnya taking things for granted tuh udah kayak my middle nama sih, haha. Betul-betul banyak banget deh hal-hal yang selama ini lupa saya syukurin, sampai akhirnya udah berlalu aja nikmat tersebut, dan baru sadarlah saya. In the case of Ramadans misalnya, saya sebetulnya nyesel bangetbangetbanget taun lalu nggak ngejalanin sepenuh hati, despite having to fast for 19 hours. Salah satunya, karena sebetulnya kalo mau itikaf dan mencari laylatul qadr kan jadi dimudahkan banget karena malamnya pendek. Excuses saya di antaranya: taun lalu Ramadan 70% di Calgary karena ngerjain core logging plus gak kenal siapa-siapa di Calgary, trus boro-boro ada mesjid deket kosan, yadda yadda yadda et cetera–padahal bisa aja sebetulnya saya mundurin jadwal core logging 10 hari terakhir supaya bisa itikaf di Edmonton. But, well, I did not.

Bukan cuma Ramadan. Banyak banget hal-hal yang alhamdulillah lagi saya biasain sekarang, yang sayangnya nggak pernah kepikiran saya kerjain dari dulu. Berawal dari jaman-jaman di mana saya sempet stres berat gara-gara dinamika kehidupan disini sih, disitu saya mulai mencari-cari sejuta coping mechanisms yang kira-kira bisa ngebantu saya untuk crawling out of the hole I was trapped in. Dari sekian banyak approach yang saya kerjain, tidak mengherankan bahwa salah satu yang paling membantu adalah ketika saya mulai ngebenerin ibadah saya. The problems did not solve themselves indeed, but rather, I was given the sense of confidence that I could, and would, get through them somehow. And little did I know that it was everything I would ever need to breathe another day.

Waktu itu saya mulai mencoba membiasakan shalat rawatib (qabliyah dan badriyah); rajin nonton dan subscribe channel-channel Islami di YouTube semacam The Daily Reminder, Saad Al Qureshi yang banyak banget koleksi doa untuk segala kondisinya, TheProphetsPath, MercifulServant, dan banyak lagi; memperbaiki doa-doa yang saya baca setelah shalat; dzikir; puasa Senin dan Kamis; throwing more budget on charity; dan amalan-amalan lainnya yang saya coba terapkan. Bukannya riya ya, but these are just supposed to be example of things we mostly forget to do on daily basis, yang padahal pahalanya luar biasa and it doesn’t even take that much of an effort to start these. Kemudian sempat ada selang waktu dimana saya skip ngerjain itu semua (emang dasar manusia adalah mahluk yang Maha Pelupa), dan alhamdulillahnya menjelang Ramadan 2018 ini keinginan saya untuk go back to do all those stuff dihidupkan kembali. Dan akhirnya, jadi merasa sedih bangetbangetbanget seperti yang saya bilang tadi. Kenapa gak dari dulu ya?

Plus, kalo kepikiran bahwa mungkin banyak dari teman-teman saya yang udah lebih dulu menjalankan hal-hal tersebut dari dulu. Kalo teringat teman-teman yang dari dulu shalatnya rapi banget, selalu on time dan disegerakan, khatam Qur’an udah berkali-kali, sedekahnya kuat, rajin puasa sunnah, terus senantiasa menghindarkan diri dari aktivitas-aktivitas yang mengundang dosa… Iri banget rasanya.

Belum lagi kalo inget betapa banyaknya dosa-dosa yang secara sengaja dan gak sengaja pernah saya kerjain. Meskipun setiap Idul Fitri, dan pada beberapa occasions lain ada haditsnya juga bahwa dosa-dosa terdahulu kita akan dihapus dan we’ll all start our sins count from zero, tapi tetep aja gak tenang. Had I done my Ramadans right that I deserved for all my sins to have been erased every Eid Al-Fitr?

Ya alhamdulillah banget sih, saya masih dikasih kesempatan untuk mikirin semua ini eventually. Masih dikasih kesadaran untuk memperbaiki diri, spiritually. Cuman, membayangkan all those chances I had thrown away when it was even easier to do all these… Duh, malu banget rasanya. Kalo teringat jaman-jaman sebelum tahun lalu saat shalat masih mepet-mepet batas waktu dan suka diburu-buru, ngaji sedapetnya doang dan kadang bisa berapa minggu lupa aja gitu, suka lupa nyisihin tabungan untuk shadaqah, adab berpakaian yang sangat jauh dari sempurna, dan masih banyak kekhilafan lainnya.

But ever since I moved to Canada, meskipun relatif lebih sulit buat beribadah (location- and time-wise), sebetulnya saya merasa dikasih lebih banyak kesempatan buat memperbaiki diri. Dengan gak adanya teman-teman seasik di Indo maka gak ada juga orang-orang yang bisa diajak bergunjing (lol), trus karena Adhi nun jauh di sana jadi terhindar pula dari haramnya pacaran (lol_2), karena jauh dari ortu jadi makin dikit pula chances untuk bikin kesel mereka padahal kalo di rumah dulu rasanya tiap hari ada aja yang saya kerjain yang bakal bikin mereka marah-marah, dan karena cuaca dingin tentulah jadi makin pengen menutup aurat, wk. Dan banyak lagi deh sebetulnya hal-hal di sini yang emang men-trigger saya untuk memperbaiki diri secara spiritual. Makanya itu, saya jadi ngerasa membuang-buang kesempatan banget manakala tersadar bahwa, kok saya pengen betul-betul taubatnya baru sekarang, ya, ketika udah bakalan balik Indo bentar lagi?

Anyways, kesimpulannya adalah: 1) Do not take your chances to perform your religious duties for granted. Terutama bagi teman-teman Muslim di Indonesia. Terutama, those who were already born as Muslims. Saya gak bisa sih bayangin, bakal gimana kalau saya baru memutuskan untuk menjadi mualaf di usia 20’s or even older, ketika udah sibuk-sibuknya dengan karir dan lain-lain, kemudian masih harus belajar seabrek ilmu agama yang fortunately udah saya cicil sejak dini. Bukannya gak mungkin untuk dilakukan ya, but for my own brains to endure all the challenges… Entah deh doi kuat apa nggak. Semoga Ia memberi pahala yang berlipat-lipat ganda ya untuk our brothers and sisters yang harus memberikan effort sebanyak ini demi dedikasinya sebagai a newly born Muslim.

Dan, 2) hidayah itu harus dicari. Actively, and aggresively bila perlu. It took me to become the worst person I’ve become (with all the constant sadness and stress and everything else that was just as ugly) to step out of the cocoon, having a new pair of wings that could help me explore the new possibilities. I’m not saying that I have completely changed and become a better servant, because I have not. There is still a lot to fix and repair. But all I know is, I’ve finally stepped on that path and I’m heading there.

By the way, this is just a very short snippet of my spiritual journey yang sebetulnya juga belum sedrastis yang orang-orang lain bisa lakukan, i.e. those who truly “berhijrah”. But I’ve opened my perspectives to make those changes possible, and such openness would not happen in the first place had I not opened my views to undergo these smaller changes in the beginning. Dan lagi, I understand that it takes more than habluminallah (humans’ relationship with Allah) to become a whole better person, because our habluminannas (humans’ relationship with fellow humans) matters just as much. As for the latter, saat ini saya juga lagi berusaha untuk menjadi figur yang baik bagi setiap orang yang berinteraksi sama saya. And I’ll probably talk about this topic on another post, soon.

Written by

A geologist, self-taught photographer, hobbyist writer, and wanderer who loves subtle colours, sunrays, mother nature, wilderness, adventures, flowers in the afternoon, quiet corners of a city, being literally - yet not figuratively - on top of the world, solo travels, trips by train, fascinating rocks, vintage postcards, and aesthetically pleasing urban landscapes.

Leave a Reply