Defisiensi Disiplin

Akhir tahun ini, umur saya akan menginjak angka 28. Artinya, lebih dekat ke kepala tiga dibanding 25 – yang biasanya adalah batas usia untuk masih pantas disebut young adult. Agak aneh, mengingat kalau saya bertemu dengan orang-orang berusia dua puluhan awal saya masih suka berpikir, “Oh, masih satu generasi lah ya kita.” Hingga saya sadari, adik saya sendiri usianya sudah 21 tahun saat ini, dan kami bahkan lahir di milenium yang berbeda! Bahkan mungkin saya adalah salah satu acuan baginya saat memikirkan contoh figur orang dewasa. Yang dianggap dan diharap sudah bisa memegang penuh kontrol akan hidup masing-masing beserta segala tanggung jawab dan konsekuensinya.

Padahal, salah satu yang paling sulit dari menjadi dewasa bagi saya justru adalah mengelola self-control. Tahun ini sudah tahun keenam saya hidup tanpa rutinitas dan jadwal yang ditentukan oleh sistem, namun rasanya saya masih tergopoh-gopoh dalam memegang kemudinya.

Ya, seperti sebagian besar dari kita, jadwal hidup saya sampai umur 21 tahun dikungkung oleh sistem dan birokrasi yang ada, yakni sekolah dan perkuliahan. Kemudian semenjak hari dibagikannya toga dan ijazah sarjana, hilanglah “paksaan” dan keharusan itu. Awalnya saya pikir melegakan. Namun tidak lama, saya mulai sadar betapa melesetnya dugaan itu.

Memang bagi sebagian orang, terbebas dari tuntutan untuk menaati peraturan mengenai jadwal hidup mungkin suatu bentuk kemerdekaan tersendiri. Punya wewenang dan kuasa penuh akan kendali hidup, tanpa perlu merasa dibatasi oleh birokrasi; bukankah terdengar seperti kabar gembira? Tapi bagi saya, antusiasme tersebut hanya berlangsung sekejap, karena tak lama setelahnya saya menyadari bahwa fleksibilitas, betapa pun ia adalah suatu bentuk privilege, sepertinya tidak diciptakan untuk saya.

Contohnya, perihal working from home atau yang sejak pandemi ini akrab disebut WFH. Saya akui saya sangat beruntung bisa bekerja dari rumah selama pandemi. Seiring dengan itu, fleksibilitas pun menjadi tema hidup, karena kantor saya memang tidak menerapkan sistem absen, apalagi mewajibkan harus available di Teams setiap jam sekian hingga jam sekian. Yang penting pekerjaan selesai tepat waktu, klien senang, manajemen pun tenang.

Kedengarannya ideal, bukan?

Tapi nyatanya, delapan belas tahun dipaksa hidup terjadwal membuat saya kelabakan saat dibebaskan mengatur ritme hidup saya sendiri. Bahkan setelah enam tahun diberi kesempatan untuk menyesuaikan diri. Padahal, menjadi dewasa itu mau tak mau harus bertanggung jawab akan manajemen waktu dan prioritas masing-masing, terlepas ada atau tidaknya sistem dan peraturan. Apa ini tandanya saya belum siap dan pantas menjadi dewasa?

Mungkin saya memang tergolong kaum yang tidak kompatibel dengan rutinitas – kecuali memang tidak ada pilihan, seperti saat sekolah dan kerja dari kantor. Dengan ketiadaan peraturan, sangat sulit bagi saya untuk menjalani kegiatan yang sama lebih dari seminggu. Kecuali lagi, memang ada deadline atau rush job sehingga saya tidak punya opsi lain.

Mungkin saya memang tipe orang yang lebih cocok diatur. Kedengaran sangat membosankan dan tidak keren memang, tapi hidup dalam koridor yang sudah ditentukan membuat saya lebih bisa mengontrol diri dan memanfaatkan waktu hidup saya dengan optimal. Tanpa aturan, seringkali saya menemukan diri saya mengerjakan hal-hal yang tidak relevan, di waktu yang salah pula. Ujung-ujungnya, terakumulasilah perasaan bersalah karena saya merasa sudah korupsi waktu kerja, dan karena membiarkan logika saya ditumpas oleh sekedar perasaan enggan untuk yang kesekian kali.

Mungkin saya memang bukan tipe orang yang inherently punya kesadaran untuk disiplin, dan seringnya hal ini membuat saya merasa banyak hari-hari yang terbuang percuma. Dipikir-pikir, memang selama enam tahun ke belakang ini saya sangat mengandalkan mood saya untuk menyelesaikan tanggung jawab apapun. Bila saya sedang enggan menyicil thesis S2 dulu misalnya, mau dengan cara menonton video yang katanya bisa menghipnotis kita untuk menjadi rajin, menonton video yang katanya memberikan subliminal message untuk menjadi produktif, menenggak kafein dari berbagai merk teh, kopi, hingga energy drinks, hingga mendengarkan playlist doa dan ayat-ayat ruqyah yang katanya dapat mengusir djinn yang mempengaruhi kita menjadi malas pun, saya tetap tak bergeming.

Hanya bila saya sedang ingin atau betul-betul harus mengerjakan tugas itu lah saya akan mulai bergerak.

Beruntungnya, saya memang si lucky b*stard (pardon my French) yang begitu sudah mood melakukan sesuatu baik karena kepepet maupun tiba-tiba mendapat ilham atau hidayah berupa lonjakan inspirasi, pekerjaan itu bisa langsung saya sikat tanpa ampun, hingga tercapai juga hasil yang diinginkan dalam tempo waktu yang kadang di luar dugaan. Tidak tidur sampai 48 jam sudah beberapa kali saya lalui karenanya, meski ini sama sekali bukan sesuatu yang saya banggakan. Kenyataannya, pola hidup yang jauh dari linear dan sangat fluktuatif itu membuat saya lelah – dan takut juga dengan segala risikonya – seiring waktu. Ingin sekali saya bisa menjadi pribadi yang lebih disiplin, lebih punya self-control, sehingga bisa mencicil pekerjaan dan punya kebiasaan yang sehat selayaknya a normal functioning adult.

Well, jangankan disiplin dalam bekerja. Perihal tugas-tugas sederhana macam self-care seperti jadwal bangun tidur, sarapan, mandi, istirahat siang, dan seterusnya saja saya keteteran untuk bisa konsisten. “Dosa-dosa” yang kian terekspos berkat pandemi ini membuat saya bertanya-tanya, bagaimana saya bisa lolos sejauh ini? Bagaimana caranya dengan kebiasaan yang tidak pantas dicontoh ini saya pernah bisa mendapat gelar akademis dan memiliki pekerjaan yang bisa dibilang ideal?

Mungkin Tuhan Yang Mahabaik memang terlalu baik pada saya. Mungkin juga doa orang tua saya untuk anak-anaknya terlalu manjur. Mungkin enam tahun ini saya diuji dengan keberuntungan. Yang jelas, tidak mungkin selamanya saya mengizinkan diri saya menjalani hari demi hari dengan trik seperti ini, seperti menunggu bumerang untuk berbalik menyerang diri saya sendiri. Yang jelas lagi, sudah saatnya saya kembali membuat janji mingguan dengan psikolog saya setelah sebulan absen, untuk membantu mencerna dan memetakan solusi masalah ini.

Kalau di antara pembaca yang dengan sabarnya menyimak curhat ini sampai habis ada yang punya pengalaman serupa, boleh sekali berbagi cerita di kolom komentar agar saya tidak merasa sendirian. Kalau pun tidak ada atau bahkan merasa dirinya sangat berkebalikan dengan saya, boleh juga berbagi opini, barangkali saya semakin mendapat inspirasi untuk menjadi manusia yang lebih punya kontrol terhadap diri sendiri.

(Omong-omong, tidak ada alasan khusus kenapa saya tiba-tiba ingin menulis dalam bahasa ibu saya setelah tiga tahun. Mungkin karena bulan ini ada hari jadinya Indonesia, jadi ini suatu bentuk apresiasi dari saya. Atau sesederhana supaya tidak lupa caranya menulis dalam bahasa sendiri.)

28 comments / Add your comment below

  1. Aku malah baru mulai hidup dengan teratur saat usia 34 tahun gara-gara nikah sama suami yang pengennya serba rapi dan terjadwal. Haha.. terakhir punya agenda rutin kayaknya pas SMA karena full-day school. Kuliah dan kerja cuma butuh waktu beberapa jam dalam sehari, sisanya fleksibel bisa ngelakuin apa aja yang kumau.. Sekarang malah mikirnya waktu fleksibel itu biar aku ngerasa puas dulu, soalnya setelah nikah untuk ngelakuin apa yang kumau jadi susyeh banget.. butuh colong-mencolong waktu..

    1. Nahh nyeimbangin antara menikmati fleksibilitas itu karena otherwise mungkin gak akan selalu bisa ngerjain apa yang kita mau, versus tetap disiplin sama kewajiban sehari-hari meski dibebasin untuk fleksibel itu yang aku masih kesulitan Mbaa. Semoga dirimu tetep bisa menikmati rutinitasnya tanpa menghapus hal-hal yang dirimu memang pengen kerjain dan bikin dirimu happy yaaa!

  2. Wah, baca post ini serasa sedang membaca tentang diri sendiri ๐Ÿ˜…. Aku merasakan hal yang sama, Kak, dan rasanya senang banget dari post ini melihat bahwa ‘wah ternyata orang lain begini juga’.

    Aku juga tidak suka dengan tidak adanya peraturan/timeline yang jelas. Aku suka struktur sekolah: jam sekian pelajaran X, dan seterusnya. Kuliahpun menurutku tidak seketat sekolah, dan disinilah aku mulai merasakan sulitnya mendisiplinkan diri. Aku harus menentukan sendiri kapan harus mengerjakan sesuatu, tetapi kalau sedang ‘tidak mood’ mengerjakan sesuatu, mau dipaksa seperti apapun juga tidak akan bisa. Yang ada, aku malah merasa burnout karena memaksakan diri. Tetapi, ketika sedang merasa ‘mood’ untuk melakukan sesuatu, fokusku akan tertuju hanya ke hal tersebut dan semua akan terselesaikan dengan cepat. Tanpa adanya aturan, aku juga malah melakukan hal-hal lain yang sebenarnya tidak terlalu penting. Anehnya, aku akan merasa bersalah kalau melakukan hal ini, contohnya mengerjakan pekerjaan H-1 yang terkesan “deadliner”, tapi rasanya mau bagaimana lagi? Baru mood untuk mengerjakan saat itu.

    Semoga kita bisa cepat menemukan cara untuk menjadi disiplin dan less moody ya, Kak. Semoga kunjungan ke psikolog juga dapat memberikan insight untuk Kakak.

    Stay safe and healthy, Kak!

    1. Yay I found my tribe meski baru berdua! Haha.

      Kadang aku bingung, apa ini suatu bentuk kekurangan, atau memang ada orang-orang yang otaknya diprogram seperti kita jadi sebetulnya bukan hal yang negatif ya? Kalau jawabannya adalah yang kedua, mungkinkah memang ada profesi yang gaya hidupnya cocok untuk orang seperti kita (i.e. kerja kalau pengen, kalo lagi enggak pengen ya udah! LOL), jadi kita gak perlu merasa bersalah ketika ritmik kita nggak sesuai dengan yang considered ideal?

      Karena gak enak banget kan constantly merasa bersalah, seakan-akan benchmark yang bagus itu memang orang yang hidupnya punya rutinitas dan kebiasaan yang jelas. (Apa emang begitu ya? Tuh kan memang harus counselling dulu nih baru ketemu jawabannya hehe.) Padahal mungkin kita juga punya kesempatan yang sama untuk eventually jadi bahagia dan sukses.. Meski ini baru a big maybe aja sih. Or maybe, (unfortunately) it does take some form of self-discipline to live a fulfilled life, tapi mungkin itu sesuatu yang bisa kita perjuangkan meski belum ketemu gimana caranya?

      Anyhow, makasih udah berbagi dan semoga kita sanity kita tetap intact ya di tengah kebebasan ini ๐Ÿ˜ (however strange and funny it sounds)

  3. Persis! Dan aku menyadarinya ketika kehilangan pekerjaan dan mulai melihat posisi diri di umur 34 ini.

    Ternyata terlalu banyak waktu yang terbuang percuma, padahal waktu adalah satu hal yang sifatnya sekali pakai. Ga bisa diulang.

    Selama ini aku hidup tanpa tujuan, hanya mengalir dari hari ke hari, kerja 7-4 dan pulang istirahat, me time.
    Ga kerasa, hari berganti minggu berganti bulan kemudian aku menginjak 34 and im not going anywhere near to what i want.

    “What i want?” Itulah satu pertanyaan yg jawabannya bisa jadi arah hidup yg kuinginkan yg kuharap akan menghindarkanku dari penyesalan lagi di masa mendatang.

    Ketika kita punya mimpi, goal, visi dalam hidup, semuanya akan lebih mudah termasuk cara kita mengisi hari hari.
    Seperti konsep minimalis, lakukan yg perlu dilakukan, buang kegiatan yg ga mendekatkan kita ke tujuan.

    And im still working on it.

    Tapi intinya, sekarang aku mulai tahu apa yang kuinginkan dalam hidup, apa yg penting apa yang tidak, dan semoga penyesalan yg kurasakan di umur 34 ini, ga akan kurasakan lagi di umur 37 (kalo ada umurnya)

    And you should too.

    Living intentionally

    1. Moga tahun ini jadi tahun terakhir buat penyesalan tersebut yaaa. Memang idealnya kita cari tau ikigai kita seawal mungkin ya. Mungkin gak salah juga hidup hanya ngalir dari hari ke hari, toh kerja juga bentuk ibadah, tapi mungkin juga bakal ada saatnya jadi mempertanyakan visi hidup. Best of luck untuk living intentionally-nya!

  4. Couldn’t agree more..dan itu lebih terasa banget lho mbak saat memutuskan untuk jadi freelance atau membangun bisnis sendiri.๐Ÿ˜… Mungkin memang itu keberuntungan org-org yang sudah biasa diberi kebebasan memilih dari muda dan survive, saat otoritas atau aturan yg mengikat tdk ada sdh ada purpose yg membentuk rutinitas.๐Ÿ˜€

    Banyak yang mengalami itu sejak WFH…nggak sendirian. Saya juga lebih terbantu bila ada skedul yg jelas. Akhirnya ya harus bikin target dan deadline sendiri degh.๐Ÿ˜‘

    Btw mba maaf kmrn aku silap salah pencet post draft eh sdh keburu di reply sama mba.๐Ÿ˜‚ Ini tempat yg benar dan ijin pindahin reply-an mba juga di tempat semestinya di ceritafotografi.com๐Ÿ˜…

    1. Dipikir-pikir iya Mba sepertinya kepengaruh karena dari jaman masih mudaan aku gak punya rutinitas atau purpose di luar jam sekolah normal yang memang genuinely karena keinginanku sendiri, jadi semacam dari kecil udah terprogram untuk nyaman dengan otoritas, however boring that sounds ๐Ÿ˜… Padahal aku pengen banget juga eventually bangun bisnis sendiri, tapi masih ragu memulai karena willpower untuk bisa stick to a routine masih minim bangetngetnget. Kalo Mba ada tips supaya patuh sama target dan deadline dari diri sendiri, barangkali bisa kucoba hihi.

      Oalaaah hahaha maap aku terlalu sigap ya komennya. Somehow aku kok ga nemu menu untuk follow blog yang ini ya, tapi seingetku udah follow blog Mba Phebie yang lain juga deh. Apa memang mesti via newsletter ya yang ini?

  5. Aduh jadi kepikiran, tadinya punya angan-angan untuk bisa hidup macam Raditya Dika yang kerja kreatif di rumah. Tapi setelah baca tulisan ini dan flashback ke kehidupan saya sehari-hari kayaknya saya juga nggak bisa disiplin dan patuh sama to do list sendiri ๐Ÿ˜€

    Kayaknya memang fleksibilitas ini bakal jadi privilege untuk orang yang mumpuni dalam self control, yang self controlnya ngga bagus ya malah jadi keteteran T_T

    Btw, mbak tulisanmu rapih sekali, padahal tulisannya panjang tapi aku bacanya kerasa.

    1. Iya Mbak, dan entahlah apa itu skill yang bisa kita asah kalau caranya bener, atau memang ada orang yang diprogram kayak kita jadi gak bisa dipaksa untuk patuh sama batasan yang dibuat sama diri sendiri..

      Waa thanks for the kind words dan makasih juga udah dibaca Mba๐Ÿ˜Š

  6. Ada kalimat “Mungkin aku tipe orang yang lebih cocok diatur?” Tosss dulu, sama persis denganku, dan itu bukan sesuatu hal yang salah. Nikmatilah hidup, salam kenal yaa.

    1. Mungkin jadi challenge aja kalo dapet lingkungan kerja yang fleksibel banget dan harus nentuin pace dan jadwal sendiri ya Mba. Tapi moga selalu bisa menikmati prosesnya.. Salam kenal juga!

  7. Aku kebalikannya sih, mba ๐Ÿ˜‚ abis nikah malah ga bisa atur ritme (nasib nikah pas lagi pandemi yheee wk) gegara 80% WFH terooss jadi mageran ๐Ÿ™ˆ

    Sering banget Zoom meeting ditinggal tidur atau ngurus dapur. Jadi ya wassalam ilmunya bubar jalan. That’s why I can’t relate with those people saying “ahhh one of many benefits from Covid-19 is we can access so many virtual learnings and/or workshop easily.”

    Tapi bismillah per bulan ini udah diatur lagi pelan2. Terutama jadwal tidur *coret mageran* for sake of my health both physical and mental โœจโœจ

    1. Hihi ku juga kalo virtual learning yang voluntarily sign up sendiri susah banget fokus Mba, emang anaknya lebih nyaman diatur sama kewajiban sih huf.. Iya aku juga pengen mulai dari benerin jadwal tidur Mba, itu emang vital banget sih. Sleep early, wake up earlier tapi tetep range 7-9 jam sehari tuh emang penting bangettt. Best of luck!

      1. Aku juga lagi ngatur jadwal tidur karena lagi TTC (Trying To Conceive alias lagi program hamil), I really thought that going to bed before midnight was an impossibility cos I have zero self discipline. But I just force myself to have magnesium supplement every day at 9 PM and be on bed by 10, sleep by 10:30 – 11 ish. It’s been working for a few weeks now. Hoping to be a bit more consistent along with regular exercise. Being self-discipline is really hard, I feel you!

        1. Sending you tons of support for your TTC Mbaa! Btw, aku juga as per minggu lalu ga pernah tidur before midnight. Mulai Senin kemarin aku coba paksain no screen time (HP/laptop/TV/etc.) sejam sebelum tidur dan sejam setelah bangun tidur gara-gara nonton suatu TEDx Talks, plus mulai maksain morning habit yang agak lebih teratur kayak low intensity exercise, mandi pagi (aku selama WFH mandinya suka-suka jamnya soalnya LOL), etc. Baru sukses 4 hari sih tapi aku tidur selalu di range jam 9-10PM sekarang. Agreed that it’s difficult indeed, although it seems like you’ve been making amazing progress since it’s been working for weeks for you! Wishing us the best of luck towards more consistency in the future! ๐Ÿ˜€

  8. Mbak tulisannya sangat mewakili. Aku sekarang lagi skripsian makin kerasa banget self control-nya kurang. Udah beberapa kali nonton video produktivitas di Youtube, baca buku self improvement, tetep aja ngerjainnya moody-an ๐Ÿ˜ญ Ditambah sekarang lagi kerja WFH full-time, makin bingung mengatur jadwal antara skripsian dan kerjaan. Wkwk doain aku ya mbak semoga skripsiannya cepet kelar dan dilancarkan. Omong-omong, salam kenal, mbak ๐Ÿ™๐Ÿค—

    1. Hai Fita, dulu jamanku skripsian motivasiku mostly karena pengen wisuda bareng sama temen-temenku dan takut ditinggal, dan mereka mostly tipe yang ambis jadi aku mau gak mau harus gercep juga hehe. Tapi pas S2 aku merasa banget yang kamu bilang. Sempet beberapa bulan gak ngapa-ngapain… Baru on fire lagi pas udah kepepet takut scholarshipku keburu abis lol. Intinya, kalo kamu gak nemu motivasi yang bisa pull you up coba cari fear/etc. yang bisa nge-push instead! Ini gak terlalu sehat sih tapi kalo kepepet sangat ngebantu buatku hehe. Salam kenal dan doaku menyertai!

  9. Habis dari “ikigai” (postingan terakhir), lalu baru ke sini. Dan setelah baca keduanya, yang langsung terbayang adalah “Kung Fu Panda” (John Stevenson & Mark Osborne, 2008)..

    ..ada mimpi, ada bangun dari mimpi dan menjalani kenyataan (yang jauh ke mana-mana dari mimpi), ada keberuntungan, ada momen-momen gundah saat mulai ‘kenal diri’ (bahwa tak peduli seberapa baik pun peruntungan, kalau tak nyaman dengan diri sendiri ya bakal feeling bad), ada kesendirian..

    Kira-kira, tentang ‘inner journey’ sejumlah sosok (utamanya tentu si Kung Fu Panda) dalam mengenali diri mereka sendiri dengan lebih baik begitulah. (Tidak bisa bilang lebih banyak, takut jadi spoilers).

    Seru, kocak, berbobot dan multifaceted (anak kecil akan ketawa terus terhibur dengan ‘kulitnya’, tetapi orang dewasa mungkin justru akan lebih menikmati film yang ‘isinya’ berlapis-lapis iniโ€”semakin banyak hal yang bisa dilihat sesuai dengan kematangan audiens). Film animasi terbaik #2 yang pernah saya lihat (alias keren banget).

    Eh ni kok malah jadi ngelantur ke film sih? Ya udah itu aja. Maaf kalau ternyata sudah nonton. ๐Ÿ™‚

    1. Wahh kebetulan Kung Fu Panda franchise memang film animasi favorit saya! Top 3 deh seenggaknya hehe. Tapi dulu nonton Kung Fu Panda (1) itu pas jaman masih SMP, jadi belom memaknai isinya karena belom ngerti existensial crisis huaha. Dan gak pernah took time untuk merefleksikan meaningnya lagi bertahun-tahun setelahnya seudah lebih dewasa, setelah harusnya lebih ngerti dan bisa relate dengan apa yang dirasain si Po di film pertama. Makasih lho udah diingetin, kayaknya habis ini mau rewatching lagi ah hehe. Mungkin dengan kapasitas diri yang sekarang jadi nemu lebih banyak treasure dan hidden gem yang bisa dipelajari.

      Kalo boleh tau, film animasi terbaik #1 menurut kutukamus apa berarti? ๐Ÿ˜€

      1. “Father and Daughter” (2000 Michaรซl Dudok de Wit). Film pendek. Waktu saya bikin post FPS dulu, di Youtube relatif bejibun, tapi banyak yang versi 9 menitan, gambarnya di-remastered, sedikit diwarna, atau malah musiknya diganti.

        Kalau mau cek versi aslinya, coba cari yang 8 menitan dengan musik pleh Normand Roger. Kalau dapat yang hitam/putih dan kualitas gambarnya agak ‘jelek’, kira-kira yah itulah dia, the masterpiece. ๐Ÿ™‚

  10. Perjalanan hidup penuh dengan warna, terkadang nyaman dengan keteraturan, lain waktu ingin merasakan kejutan2 dari ketidakpastian jadwal harian. Dinamis.
    Terkadang ingin menikmati waktu kesendirian tanpa ingin diusik, lain hari ingin berada di tengah keramaian tapi sebagai penonton.
    Dari semua itu, tak ada yang senyaman dalam dekapan ibu ๐Ÿ™‚ .

    1. Betul Mbak, secara keseluruhan memang dinamis yaa. Meski ada yang punya tendensi cocok dengan adanya peraturan, ada juga sebaliknya. Makasih udah mampir! ๐Ÿ™‚

  11. Sejujurnya, saya juga adalah salah satu dari orang yang “lebih baik diatur”. Semasa proposal skripsi tahun lalu, ada seorang teman yang selalu menagih proposal saya sampai saya menyebutnya dosen pembimbing ketiga (karena dospem 2 juga kadang menyuruh saya konsul ke dia), dan entah kenapa saya seneng banget.

    Setelah dia wisuda, saya keteteran. Kayak hilang arah. Dia kerja jauh, saya mulai garap skripsi, tapi sampai sekarang saya belum berhasil menang atas diri sendiri. Perlahan saya coba “diatur” sama alarm, walaupun beda, tapi syukurnya mulai terbiasa.

    1. Thanks for sharing Ryza, it seems to be a very long journey indeed ya sampai kita bisa (agak) nyaman nentuin pace kita berdasarkan willpower kita sendiri. Aku pas skripsi kebantu karena temen-temenku gercep dan aku pengen wisuda bareng mereka, jadi lebih ke arah driven by fear hehe. Pas S2 juga pernah stuck beberapa bulan, ujung-ujungnya lanjut lagi karena driven by fear lagi takut beasiswa keburu abis. It’s not the wisest advice I know, but it seems that fear (at least for me) is sometimes even more useful than having an actual goal. ๐Ÿ˜›

  12. In any seasons of life, having the same daily routines is my sanity keeper. It is liberating because I know what to expect instead wondering daily โ€œwhat should I do next?โ€. It also turned out to be one of the biggest advantages while dealing with motherhood. The little one has been following the rhytm that I set since day one, weekend or weekdays, home or away, and it saves the whole family from many harms, physically, mentally, and financially. It may sound boring, but actually it gives us more freedom.

Leave a Reply