Why choosing Emirates was the best thing happened to me in 2016 – part I: Dubai

Tanggal 17 Agustus 2016 pukul 00.40 kemarin saya terbang dari Jakarta (CGK) untuk mencapai Edmonton (YEG) dimana saya akan melanjutkan studi Master selama dua tahun ke depan. Sesuai itinerary, saya akan transit di Dubai (DXB) dan Seattle karena perjalanan ke Edmonton memang tidak ada direct flight dari Jakarta, dan sesedikitnya harus transit sebanyak dua kali. Pesawat yang saya gunakan dari Jakarta sampai Edmonton seluruhnya adalah Emirates, meskipun untuk rute Seattle-Edmonton akan dioperasikan oleh Alaska Airlines.

Saya sampai Dubai pada tanggal yang sama, sekitar pukul lima pagi. Penerbangan ke Seattle dengan maskapai yang sama akan berangkat pukul 09.35. Maka pada saat open gate sekitar pukul 08.30, saya segera mengantri di gate B29 di Terminal 3 bersama penumpang-penumpang lainnya.

Saat pengecekan paspor dan visa, officer Emirates yang menjaga di gate bertanya, “Where’s your USA visa?” dan saya dengan kalem (dan begonya) menjawab, “I don’t have one, my final destination is Canada and I’ll only have a two-hour transit in Seattle without leaving the airport.”

Dia bertanya lagi, masih sambil membolak-balik paspor saya yang karena baru diperpanjang maka isinya memang hanya visa Kanada. “But do you have any other USA documentation?”

Dengan masih polosnya lagi saya menjawab, “No… I don’t think I’ll need one because I’m not even going to leave the airport.”

Disitu saya mulai sedikit khawatir. Dan mulai terpikir: do I even need a US visa just to have a quick transit at the airport?

Kemudian officer tersebut nampak mengecek laptop di bawah mejanya, dan dua menit kemudian dia bilang,

“Well you do need a visa to enter the US, at least a Transit Visa. Even just to fly over the US, you’ll need one. I’m sorry but we cannot let you on board.”

DANG.

Dunia serasa meredup di sekeliling saya.

How come I did not know it? Pretty sure I googled, tapi mungkin saat itu saya nggak benar-benar konsentrasi. Whereas where the heck in the world would I need visas just to step on the airport other than the US?!

Langsung panik, karena itu adalah penerbangan internasional perdana dimana saya sendirian. I could not believe how ridiculous I can be! Now I’m stranded 5000 miles away from home where no single citizen in the country recognizes me, having no one else I knew around, gak tahu gimana caranya saya akan bisa mencapai Edmonton, gak tahu apakah saya jadi harus bayar sendiri untuk mengganti rute saya, bahkan kalaupun saya dideportasi ke Jakarta apakah saya harus bayar tiket Dubai-Jakartanya saya juga gak tahu, juga khawatir dengan bagasi yang jangan-jangan udah ditransfer ke pesawat menuju Seattle, gak berani hubungin orang rumah karena pastinya akan dimarahin dan super bikin panik, bahkan gak bisa mengontak siapa-siapa karena jatah free WiFi sejam udah habis. Panik juga khawatir host fam akan keburu jemput di YEG kalau saya gak berhasil menghubungi mereka lalu mereka kesal dan I’ll just successfully give them the worst impression.

Panik, saya pun mulai memasang muka ter-hampir mewek dan Cuma bisa bilang, “So… what do I have to do now?”

Officer Emirates yang somehow mukanya nampak sangat tenang-tenang aja (possibly he had met another insanely ridiculous passengers before me for sure) itu bilang, “Don’t worry, we’ll issue you another route. Just wait until the queue is finished and we’ll help you out.”

Saya pun kembali ke lounge, feeling as stressful as I could be. Tapi bersyukur karena officer tadi bilang mereka akan bertanggung jawab, meskipun sebetulnya, it was purely my mistake!

Saya kemudian mencoba connect WiFi dari laptop untuk mencari informasi yang siapa tahu bisa membantu, tapi kemudian laptop saya error! Beberapa hari sebelumnya memang laptop saya bermasalah tapi saya pikir sebelum ke Jakarta sudah beres, namun ternyata masih saja error. Sudah jatuh tertimpa tangga.

Panik, saya mencoba iseng membuka percakapan dengan seorang bule di samping saya. I was lucky that she was very friendly. Bahkan dia mengizinkan saya pinjam HP-nya untuk googling. I meant, did she not know how dangerous it is to let a stranger you just met few minutes before to touch your cellphone? What if somehow saya adalah a device hacker or hypnotherapy expert terus HP doi langsung saya gandol saat itu? But she wasn’t worried at all.

Beruntungnya lagi, beberapa menit kemudian tiba-tiba ada keluarga teman Bunda yang ternyata sedang transit juga di Dubai untuk liburan dan mereka menemukan saya duluan. Alhamdulillah, akhirnya bisa curhat gak pakai mikir karena berbahasa Indonesia. Mereka menenangkan saya dengan bilang kalau biasanya saya gak akan dikenai biaya tambahan untuk rute baru. Yang membuat saya gak yakin adalah, ini adalah kesalahan saya, bukan mereka sama sekali. Jadi saya gak yakin bagaimana kelanjutannya.

Antrian di gate tersebut akhirnya usai, dan officer tadi memanggil saya lagi. Officer tersebut ternyata extremely friendly dan sangat helpful, dia menenangkan saya dengan bilang bahwa saya tidak akan dikenakan biaya apapun untuk rute baru saya. Saya pun jadi sedikit tenang.

Saya digiring oleh seorang manajer ke sebuah kantor dimana saya diminta menunggu selama kurang-lebih selama 45 menit, having no single idea about what was going to happen. Selama 45 menit itu saya hanya bisa berdoa, was-was, sama sekali gak tahu prosedur apa yang akan dipilih oleh Emirates. Bahkan saya belum diwawancara atau ditanyai apapun sama sekali.

Sampai akhirnya seorang Ibu-ibu berseragam menemui saya yang saat itu sudah hampir nangis di ruang tunggu, dan seketika dia bilang, “Nabilah, we have issued another route for you. This will be through London, then Toronto, then Edmonton because we have no direct flight to Canada.”

Saya shock karena belum diajak ngobrol atau apapun tiba-tiba dia sudah bawa tiket baru untuk saya.

“Am I charged at any cost for this?”

“No, you’re not. Because this is just a new route issuance. However we’re not sure if your baggage will be automatically transferred from London to Toronto or not, so you should double check.”

“Oh God thank you so much! So… I don’t need to go back to Jakarta?”

“No, you don’t. But you’d better hurry, because the flight to London leaves shortly.”

Shock sekaligus lega, saya cuma bisa berkata, “Thank you so much! That’s so very kind of you!!” sebelum saya melihat jam closing gate di tiket saya, yang mana 30 menit dari waktu saat itu. Dengan hand baggage seberat hampir 8 kg dan ransel setidaknya 2 kg, saya benar-benar langsung lari tergopoh-gopoh mencari gate di tiket saya untuk penerbangan ke London.

But I swear the Emirates crew are almost heaven-made people! Saking bingungnya dengan terminal yang kelewat luas, saya bertanya berkali-kali sampai akhirnya bertemu seorang Bapak-bapak white collar memakai suit yang sepertinya seorang manajer, dan sekali lagi saya bertanya sambil sesak nafas karena habis lari-lari mendorong troli sejauh entah berapa ratus meter, “Sir, how do I get to A12 gate?”

“What time is your flight departure?” Dia bertanya.

“In… 20 minutes?”

Dan yang dia lakukan seketika membuat saya lagi-lagi kaget dengan kebaikan kru Emirates. Dia memanggil seorang security kemudian berkata, “Hey, take this lady to A12 gate through the fastest route. I’ll handle your job.”

Ya Tuhan, seorang manajer baru saja mengambil alih tugas seorang security supaya security tersebut bisa mengantar saya ke gate saya sebelum tutup. Sekali lagi saya hanya bisa bilang, “Thank you so much!”

Saya dan satpam tersebut kemudian literally berlari di sepanjang terminal, melewati entah berapa lantai, tapi satpam tersebut juga nampak tenang dan berkali-kali berkata, “Hey it’s okay, no need to rush.” Meskipun I knew so well that I did have to rush.

Akhirnya sampai juga di gate untuk penerbangan ke London. Dan bertemu lagi dengan officer pertama di gate untuk penerbangan ke Seattle tadi. “Hi, you’re here at last. How are you?” katanya.

Saya hanya bisa nyengir dan berkata, “I’m good, thank you for taking care of me. I swear Emirates crew are all so good, I’m so very lucky to be using your airline!” Sambil sesak nafas karena baru saja lari-lari dari ujung ke ujung terminal.

And eventually, there I was at last, sitting in a flight to London. I mean, wow. Am I really gonna visit five cities in three different continents within 48 hours???

Now that the problem with Dubai solved, saya pun mulai bernafas lega meski badan isinya literally hanya keringat akibat menyeret bawaan seberat 10 kg tanpa istirahat kecuali saat security check yang mana rebek juga.

However, another problem arises. Karena saya akan ganti maskapai dari Emirates ke Air Canada di London, saya harus mengecek mengenai bagasi saya yang terdiri dari dua koper yang masing-masing beratnya sekitar 20 kg. Dan setelah saya cek tiket saya, they’re even located in two different terminals. Baru saja tenang selama lima menit, seketika saya diserang kepanikan part dua.

I swear, penerbangan Dubai-London tersebut adalah penerbangan yang paling saya gak bisa nikmati, no matter how extremely beautiful the scenery looking like outside the window, no matter how comfortable my window seat was, no matter how delicious the meals were, no matter how bright the weather outside was. Saya sama sekali gak tertarik untuk buka entertainment menu di in-flight TV, yang saya terus-terusan buka hanya today’s flight information untuk mengecek sisa waktu sebelum sampai di London. Bahkan saat saya memutuskan untuk tidur, saya gak bisa tidur. Saya belum pernah ke LHR Airport, gak kebayang sejauh apakah kedua terminal tersebut, dan saya gak tahu prosedur apa yang harus saya lakukan lebih dulu, antara mengambil bagasi saya ke baggage claim atau langsung lari ke gate Air Canada di terminal lain dan mengambil resiko tentang bagasi saya yang mungkin akan ketinggalan di London jadinya.

Saat itu saya pun benar-benar bingung antara dua opsi yang dua-duanya beresiko:

  1. Langsung lari dari Terminal 3 dimana Emirates akan landing ke Terminal 2 dimana Air Canada beroperasi. Tapi gimana kalau ternyata saya harus manually check in my suitcases? Karena waktu itinerary pertama saya yang via Seattle dibuat, saya harus mengambil koper-koper saya terlebih dahulu untuk kemudian di-check in ke flight menuju Edmonton. Itu berarti setelah sampai di Terminal 2, saya akan harus lari ke Terminal 3 LAGI untuk menjemput koper saya. And if I don’t, koper saya berarti akan terpisah di benua yang berbeda dengan saya!
  2. Ambil bagasi dulu di Terminal 3 (yang mana pastinya akan butuh waktu superlama). Tapi lalu kemana saya harus check in untuk memasukkan bagasi saya? Karena kalau saya langsung ke gate di tiket, sudah pasti gak bisa masukin bagasi. And how the heck would I drag suitcases, handbags, and backpack of at least 50 kilograms while hurrying in the crowds???

I had no idea, even the air stewardress couldn’t help.

Then once again, I made the second biggest mistake during this trip.

 

Written by

A geologist, self-taught photographer, hobbyist writer, and wanderer who loves subtle colours, sunrays, mother nature, wilderness, adventures, flowers in the afternoon, quiet corners of a city, being literally - yet not figuratively - on top of the world, solo travels, trips by train, fascinating rocks, vintage postcards, and aesthetically pleasing urban landscapes.

2 comments / Add your comment below

  1. Wow, saya ikut berdebar-debar juga bacanya. Pengalaman saya di bandara nggak banyak dan itupun hanya penerbangan domestik. Dua kali saya pernah melakukan penerbangan sendirian adalah dari Jakarta ke Surabaya dan pulang balik. Itupun syukur ada penumpang di yang duduk di sebelah saya memberitahu kemana saya harus ambil bagasi saya. Kalau mbak malah perjalanan ke.luar negeri dan transit berkali-kali kebayang keribetannya lebih berlipat-lipat.

    1. Hahha aku juga kalo inget2 ini heran sendiri Mbak kok aku pas itu bisa survive.. Kayaknya saking paniknya sampai udah gak kepikiran mau panik pas itu, cuma bisa gercep dan nyari cara gimana caranya supaya aku bisa tetep berangkat. Iya, dipikir2 aneh juga ini perjalanan 3 benua dalam 48 jam… Seru untuk dikenang tapi plis jangan kejadian ulang!

Leave a Reply