Why choosing Emirates was the best thing happened to me in 2016 – part II: London

Selama di penerbangan Dubai-London, saya berkali-kali bertanya pada tiga pramugari berbeda karena gak satupun dari mereka betul-betul mengerti apa yang harus dilakukan. All they said was, “It’s okay, everything’s going to be just fine.” How cliché.

Kemudian tiba lah di London. Dengan sigapnya saya langsung buka kabin, keluar lewat pintu di belakang saya melawan antrian, dan langsung melesat dari pintu exit ke bandara dengan kondisi pundak yang serasa hampir copot saking berat dan besarnya hand luggage saya.

I only had less than 90 minutes before my next flight closes the gate.

Saya pun mencoba mencari Ground Staff karena para pramugari tadi bilang, those are the people I need to help me out. Namun sialnya, saya dioper-oper dari satu staf ke yang lain. Saya sudah jalan menuju Flight Connection meskipun I swear semua orang yang baru turun dari pesawat langsung walking straight menuju Baggage Claim (yang jelas-jelas bikin saya panic karena saya satu-satunya  orang yang ada di lorong menuju Flight Connection!). Karena gak yakin, saya bertanya pada staf pertama yang saya temui di setengah jalan menuju Flight Connection. Dan dia bilang, “You should go back to Emirates in Terminal 3.”

Like… what? Saya langsung lari ke arah berlawanan, kembali menuju Terminal 3. Dan somehow, saya agak lupa kejadiannya karena saat itu saya luar biasa terburu-buru, tapi saya ingat betul bahwa ujung-ujungnya saya bolak-balik sebanyak dua kali antara Terminal 2 dan 3.

Terakhir kali di Terminal 3, beruntung saya bertemu seorang pramugari Emirates yang super-duper baik dan nampak khawatir dengan saya, kemudian dia bilang, “No, you go straight to Air Canada.” Yang berarti dari tadi saya sudah benar! Saat itu saya sudah menghabiskan 30 menit waktu berharga saya karena I swear itu adalah jauh banget kacau.

In less than an hour, my flight to Toronto will be taking off.

Saya langsung lari sekencang-kencangnya ke Terminal 2, sampai hampir nangis di tengah jalan karena jantung saya sakit, bahu saya serasa mau retak, dan orang-orang di flight menuju Toronto tersebut pastinya sudah mulai boarding.

Dengan memalukannya saya berlari-lari di sepanjang hall sambil menyeret hand luggage saya karena bahu saya sudah tidak bisa lagi menolerir sakitnya. Gak sedikitpun saya berhenti, kecuali di escalator naik dan itupun hanya beberapa detik sebelum akhirnya saya lanjut jalan di sepanjang escalator tersebut saking gak mau membuang waktu.

Akhirnya, setelah menunggu bus selama 5 menit, kemudian kembali berlari-lari dari pintu Terminal 2 ke gate yang saya tuju (which I swear it was extremely far! Ditambah prosedur security check yang teramat rebek di Heathrow), akhirnya saya sampai di gate yang saya tuju, sekitar setengah jam sebelum departure.

I had no boarding pass yet, I had none of my suitcases with me, my heart was pounding so very extremely fast due to excessive exhaust, my shoulder felt like cracking, dan kemudian staf Air Canada tersebut berkata sesuatu yang membuat saya merasa hampir mati berdiri di tempat.

“Ma’am, I’m sorry but your name is not on our list.”

DHUAR.

Di tengah sesak nafas tersebut, saya menyadari betapa sulitnya menjelaskan situasi saya yang baru saja direroute dari Dubai kepada staf Air Canada tersebut karena masih harus berpikir dalam Bahasa Inggris. Saya menanyakan apakah ada penerbangan selanjutnya hari itu sehingga saya tetap bisa berangkat.

“No Ma’am, I’m sorry. We have eleven flights to Canada each day but this one at 6pm is the last one. You may try next morning, the earliest will fly at 8.30.”

Saya mau pingsan.

Dia bilang lagi, “It’s not your fault, Emirates seem to be kind of messing up today. Even if I want to let you on board, you can’t. Because all of our seats are taken and we’ll have no meals for you. The only thing you can do is to go back to Emirates, they’ll issue another ticket for you. I’m sorry but I know Emirates kind of messing up today.”

Dan saya pun udah gak sanggup melawan karena yang saya lakukan hanya ingin nangis.

Dia menawarkan saya untuk memakai handphone-nya jika saya ingin menghubungi siapapun di Kanada. I tried calling my host family but they did not answer. Saya belum cerita ke siapa-siapa soal apapun di hari kemerdekaan tanah air saya itu, dan saya benar-benar udah terlalu lemas untuk langsung bergerak ke Terminal 3 lagi untuk menemui Emirates.

But I was kind of proud of myself, because at last, I did not cry. Hanya setitik-dua titik yang memang udah gak bisa ditahan sejak di Dubai, tapi gak sesenggukan sama sekali.

Akhirnya saya memutuskan untuk langsung moving to Terminal 3, menyadari bahwa Emirates desk tersebut bisa tutup sewaktu-waktu. Beruntung, ada seorang Bapak dengan mobil kecil khusus airport yang bersedia mengantar saya sampai pintu Terminal 2 sebelum saya menyambung dengan bus menuju Terminal 3.

Akhirnya di Terminal 3, saya langsung mencari Emirates Airline Desk. Sialnya, saya gak sempat persiapan untuk security check di Heathrow yang mana rebeknya naudzubillah. Sehingga sempat tertahan sekitar 15 menit karena cabin bag saya diobrak-abrik akibat stafnya mencari liquid mana yang lupa saya pisahkan di plastik bening.

Setelah itu langsung saya lari ke Emirates Desk, dan jantung saya serasa mau copot begitu melihat bahwa desk tersebut sudah tutup. Langsung tanpa sempat panik saya pun bermanuver ke Emirates Lounge yang sebenarnya hanya untuk invitation only, namun apa boleh buat karena saya benar-benar harus bertemu dengan staf Emirates.

Di Emirates Lounge yang ternyata cukup jauh dan sangat menguras tenaga untuk mencapainya, saya langsung menjelaskan kondisi saya pada staf di front desk. Pada saat itu, saya adalah satu-satunya customer dengan tampilan lusuh, kusut, gembel, belum mandi dari dua hari yang lalu, hanya pakai kaos dan celana asal demi kenyamanan semata, meanwhile customer lain yang masuk adalah tamu-tamu VIP dengan setelan yang serba dandy.

Front desk staff tersebut heran, karena menurut database mereka, nama saya sudah sangat terdaftar di penerbangan menuju Toronto yang tidak bisa saya naiki tadi. “We’re very sure your name is on the list. What did the Air Canada say again?”

Dan saya pun lagi-lagi di tengah kelelahan yang melanda berusaha sangat keras untuk berbicara dengan tenang dan jelas tanpa grammatical error yang fatal, which was DIFFICULT.

Di Emirates Lounge tersebut saya akhirnya hampir tumpah, karena penerbangan hasil reroute ini akhirnya mengalami issue lagi. Namun beruntungnya saya memilih Emirates, karena staf tersebut langsung memesankan saya penerbangan terpagi di hari selanjutnya dan tak lupa memberikan saya voucher hotel dan shuttle. Bahkan mereka gak pakai marah-marah, ngomel, atau apapun itu. Mungkin karena visa saya sebagai student, atau mereka menghormati sesama Muslim, atau keduanya. Yang jelas, saya hanya bisa bersyukur tanpa sanggup mengeluh sedikitpun. Bahkan seorang staf bahkan menuliskan dengan sangat detail di itinerary saya bagaimana cara saya mencapai bagian Imigrasi dan Emirates Desk di bagian departure untuk membuat visa transit UK dan mengambil voucher saya, dan memastikan saya bisa dengan aman mendapatkan service terbaik.

Lalu seorang Bapak bermobil dari maskapai tersebut akhirnya mengantar saya sampai imigrasi. Dari situ saya kembali berkeliling mencari Emirates Ticketing Desk untuk memastikan soal bagasi saya yang saat ini entah dimana keberadaannya.

Disana saya bertemu dengan pramugari yang saya temui di Terminal 3, yang mengarahkan saya untuk mencapai Terminal 2. Seketika dia bilang, “Didn’t I meet you back there? How’s it going? Why aren’t you on board?”

Lalu saya jadi bercerita lagi untuk kesekian kalinya, setelah sebelumnya juga bercerita pada Ibu-ibu di bagian Imigrasi yang terus-terusan bertanya, “So, is it actually Emirates or Air Canada’s fault?”

At the end of the day, pada akhirnya kekacauan di hari kemerdekaan RI itu berakhir saat akhirnya seorang staf Emirates memberikan saya voucher hotel dan tiket bus pulang-pergi dari LHR ke hotel. Saat menunggu bus tiba pun saya sempat ngobrol dengan seorang bapak random yang excited karena berkenalan dengan orang Indonesia untuk pertama kalinya—meskipun berkali-kali saya bilang pada beliau kalau di UK ada ribuan mahasiswa Indonesia saat ini. Selama di bus pun saya mengobrol dengan seorang ibu yang sedang solo travelling ke London.

Dan akhirnya, there comes the silver lining. I get to shower properly and conveniently, have fancy dinner and all, and sleep on comfortable beds. Pada flight keesokan harinya, saya beranikan diri untuk akhirnya mengontak satu-satunya orang yang saya ceritakan dengan detail kejadian hari itu: Adhi. Ya, selama menjalani intense-nya seharian itu, saya benar-benar sendirian karena gak seorang pun saya kabari tentang kebodohan tersebut. But I survived! Cukup bangga juga karena gak pernah terbayang sebelumnya bahwa saya akan menjalani “cobaan” se-intense itu, se-random itu.

Di penerbangan internasional sendiri pertama pula. Semakin diingat, semakin menjadi reminder bahwa if I could pass such overwhelming challenge, what couldn’t I do then?

Dan bersyukur bahwa airline saat itu adalah Emirates, yang sangat responsible terhadap customernya meski saya boro-boro member atau VIP guest.

Namun cobaan ternyata gak berakhir disitu.

Written by

A geologist, self-taught photographer, hobbyist writer, and wanderer who loves subtle colours, sunrays, mother nature, wilderness, adventures, flowers in the afternoon, quiet corners of a city, being literally - yet not figuratively - on top of the world, solo travels, trips by train, fascinating rocks, vintage postcards, and aesthetically pleasing urban landscapes.

Leave a Reply